Search This Blog

Thursday, January 25, 2018

SISWA MENGANALISIS KONFLIK SOSIAL PILKADA

TUGAS TER STRUKTUR MENGANALISIS KONFLIK SOSIAL PILKADA 

 Siswa Membaca Berita online dibawah ini kemudian explorasilah pengetahuan mu tentang faktor-faktor penyebab terjadinya konflik, analisa lah dengan pendekatan teori-teori konflik kemudian deskripsikan pendapatmu tentang isi berita dibawah ini dan apakah setuju dengan pendapat bahwa "Budaya Mempengaruhi Kerawanan Konflik Pilkada" :

https://nasional.sindonews.com/read/1270889/12/kemendagri-budaya-pengaruhi-kerawanan-konflik-pilkada-1515039177

Kemendagri: Budaya Pengaruhi Kerawanan Konflik Pilkada Koran Sindo Kamis, 4 Januari 2018 - 11:56 WIB Kemendagri:  - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyebut budaya sebagai salah satu faktor yang memengaruhi kerawanan konflik saat penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak. Faktor budaya ini bisa menambah potensi konflik di daerah-daerah penyelenggara pilkada. Kemendagri melakukan pemetaan kerawanan dengan beberapa indikator yaitu kontestasi, penyelenggara, partisipasi, geografis, dan budaya/militansi. 
Dari indikator tersebut, daerah-daerah yang dinilai memiliki kerawanan tinggi yaitu Sulawesi Selatan, Maluku, Papua, Nusa Tenggara Timur, Konawe, Timor Tengah Selatan, Mimika, Paniai, Jayawijaya, dan Puncak. Sementara kategori sedang yakni Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Bima. Tahun ini akan diselenggarakan pilkada di 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. "Ini kami membuat kerawanan yang merupakan kom binasi antara kerawanan yang dibuat Bawaslu dan indeks parameter yang ada dalam pemantauan dari politik. Ini mulai dari geografis sampai budaya," kata Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum) Kemendagri Soedarmo, Rabu (3/1/2018). Dia mengatakan, budaya cukup berpengaruh pada pelaksanaan pilkada. Daerah yang memiliki budaya kekeluargaan yang erat akan menimbulkan militansi. 
Hal ini sedikit-banyak akan menambah potensi kerawanan konflik saat pilkada. "Misalnya Sulawesi Selatan (masuk kerawanan tinggi) karena juga memiliki budaya militansi yang kuat," ucap dia. Sedangkan untuk Papua, selain kontestasi, tingginya potensi kerawanan juga karena faktor budaya. Banyak suku yang ada di tanah Papua dan memiliki dukungan berbeda-beda. "Jika suku A dukung B dan suku B dukung C. Ini pendukungnya bisa tidak puas dengan hasil ini jika kalah. Makanya Papua sering masuk daerah rawan," ungkap dia. 
 Meski begitu, Soedarmo mengatakan bahwa pemetaan ini bisa saja berubah pascapenetapan calon kandidat kepala daerah sebab jumlah dan siapa yang akan berkontestasi akan memengaruhi kerawanan konflik. "Nanti kalau ada calon, mungkin saja bisa berubah. Misalnya ada daerah yang head to head juga berbeda dengan calonnya tiga. Nanti akan (petakan) ke sana juga," kata dia. Kemendagri: Budaya Pengaruhi Kerawanan Konflik Pilkada Sebelumnya Soedarmo juga menuturkan bahwa situasi saat ini masih kondusif. Semua daerah tetap melakukan deteksi dini untuk melakukan pencegahan. "Kita berharap terus bisa stabil. Nah, bagaimana caranya ini kita maksimalkan tim monitoring yang sudah terbentuk di semua daerah," ungkap dia. Dia mengatakan, kampanye hitam, suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), ataupun politik uang berpotensi terjadi di semua daerah. 
Pihaknya saat ini fokus agar hal tersebut tidak masif saat pelaksanaan pilkada mendatang. "Kita terus melakukan sosialisasi juga agar itu tidak ada money politics, black campaign, dan kampanye-kampanye negatif yang lain. Ini kan, ini supaya nanti bisa menjaga stabilitas keamanan dan ketenteraman masyarakat di daerah. Mudah-mudahan semua ya bisa berjalan lancar," kata dia. Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Cornelis mengatakan, saat ini kondisi masih kondusif meskipun dia mengakui Kalbar sering disebut-sebut sebagai daerah yang rawan. "Normal-normal saja. Dulu juga diramalkan, tapi aman. Tapi, demo saja tidak. Analisis saya sih tidak. Apapun keputusan pasti akan diterima," ucap dia. Namun, potensi tersebut bisa terjadi jika penyelenggara pemilu tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Jika peyelenggara melaksanakan tugasnya dengan adil, tidak akan terjadi. 
 Sebelumnya pemerintah diminta lebih ekstra mewaspadai potensi konflik sosial di tataran lokal saat Pilkada Serentak 2018. Satu di antara penyebabnya adalah semakin banyak elite politik yang akan terlibat. Koordinator Nasional (Kornas) Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Sunanto mengatakan keberadaan Pemi lu 2019 akan membuat banyak elite politik juga terlibat dalam Pilkada 2018. Maka itu, segala potensi konflik pada tataran lokal harus diwaspadai. "Gesekannya tidak head to head antarkandidat. Tapi, juga akan ada beberapa pihak yang ikut bertarung. Jika tidak diantisipasi, bisa lebih kenceng kerusuhannya," kata dia. Sunanto mengatakan, pada tahun mendatang para elite lokal akan memanfaatkan Pilkada 2018 untuk kontestasi 2019. Mulai dari para caleg DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi, DPR, DPD, bahkan presiden. "Kandidat 2019 terlibat pilkada untuk memperkenalkan diri. Banyak kandidat sebarkan baliho dukung siapa. Akan semakin membuat masyarakat membingungkan," ungkap dia.

Wednesday, January 10, 2018

GLOSARIUM SOSIOLOGI

GLOSARIUM
Sosiologi: Pengetahuan atau ilmu tentang sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat; ilmu tentang struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya.
Masyarakat: Sejumlah manusia dl arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yg mereka anggap sama.
TeoriPendapat yg didasarkan pd penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi; atau penyelidikan eksperimental yg mampu menghasilkan fakta berdasarkan ilmu pasti, logika, metodologi, argumentasi.
Sosialisasi: Usaha untuk mengubah milik perseorangan menjadi milik umum (milik negara): tradisi tidak memperlancar proses -- perusahaan milik keluarga;  proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat dl lingkungannya.
Anomi: perilaku tanpa arah dan apatis: kini muncul sikap-sikap yg mengarah pd -; Antr keadaan masyarakat yg ditandai oleh pandangan sinis (negatif) thd sistem norma, hilangnya kewibawaan hukum, dan disorganisasi hubungan antara manusia; Psi gejala ketidakseimbangan psikologis yg dapat melahirkan perilaku menyimpang dl berbagai manifestasi.
Alienasi: eadaan merasa terasing (terisolasi);  penarikan diri atau pengasingan diri dr kelompok atau masyarakat;  pemindahan hak milik dan pangkat kpd orang lain;
Fungsionalisme: teori yg menekankan bahwa unsur-unsur di dl suatu masyarakat atau kebudayaan itu saling bergantung dan menjadi kesatuan yg berfungsi; doktrin atau ajaran yg menekankan manfaat kepraktisan atau hubungan fungsional;  Ling gerakan linguistik yg beranggapan bahwa struktur fonologis, gramatikal, dan semantis ditentukan oleh fungsi yg dijalankan dl masyarakat, dan bahwa bahasa itu sendiri mempunyai fungsi yg beraneka ragam
Inovasi : Suatu unsure kebudayaan yang baru.
Konflik : Proses pencapaian tujuan dgn cara melemahkan pihak lawan, tanpa memperhatikan norma dan nilai yg berlaku.
Nilai : Konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia mengenai apa yg dianggap baik atau buruk.
Status sosial : Prestise umum dari seseorang dalam masyarakat.
Etnosentris : Penilaian yg baik terhadap sikap-sikap dan pola perilaku kelompok sendiri.
Pluralisme : Konsepsi yg menegaskan adanya pelbagai prinsip, ruang lingkup dan bentuk realitas yg tidak mungkin dikurangi lagi.
Mediasi : Metode penyelesaian sengketa, dimana pihak-pihak yg bersengketa memeinta bantuan pihak ketiga yg keputusannya tidak mengikat.
Diskriminasi : Memperlakukan orang secara berbeda atas dasar alasan-alasan yg tidak relevan.
Kerja sama : Jaringan interaksi untuk mencapai tujuan bersama.
Empiris : Semua pengetahuan yg berasal dari pengalaman.
Non etis : Tidak sesuai dengan etika.
Fakta : Unsur realita yg terbukti / dapat dibuktikan.
Objektif : Setiap hasil bernilai positif bagi pembuat keputusan.
Mobilitas sosial : Gerak dari suatu posisi sosial ke posisi sosial lainnya.
Etika : Berkenaan dengan pandangan orang lain terhadap suatu masyarakat
dengan mempergunakan konsep-konsep dan penjelasan-penjelasan ilmiah pengamat.
Masyarakat : Suatu sistem sosial yg menghasilkan kebudayaan.
Sistem sosial : Sistem yg terdiri dari elemen-elemen sosial atau sistem aksi dimana aksi-aksi yg mandiri dilakukan oleh individu yg berinteraksi.
Masalah sosial : Suatu keadaan dimana cita-cita warga masyarakat tidak terpenuhi krn keadaan sosial dalam masyarakat.
Pemimpin : Seseorang yg mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain sehingga mengikuti kemauannya.
Kebudayaan : Hasil karya, rasa, dan cipta manusia yg didasarkan pada karsa.
Norma : Kaidah yg mengatur perilaku kelompok umum tertentu.
Sanksi : Suatu rangsangan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan.
Komunikasi : Proses penyampaian pesan dari satu pihak kepada pihak lain sehingga terjadi pengertian bersama.
Integrasi sosial : Taraf interpendensi antara unsur-unsur sosial.
Stratifikasi sosial : Sistem hirarki kelompok di dalam masyarakat.
Diferensiasi sosial : Diferensiasi pekerjaan, peranan ,prestise, kekuasan dan kelompok dalam masyarakat yg sesuai dengan fungsi.
Discovery : Pengakuan terhadap adanya gejala-gejala maupun hubungan yg sebelumnya tak terduga.
Invention : Suatu proses inovasi yg merupakan sintese dari unsur-unsur kebudayaan yg ada.
Interaksi sosial : Proses sosial yg menyangkut interaksi antar pribadi, kelompok, dan antara pribadi dgn kelompok.
Toleransi : Sikap yg merupakan perwujudan penahanan diri terhadap sikap pihak lain yg tidak setuju.
Koalisi : Kerja sama antara kelompok-kelompok yg berbeda untuk kepentingan pertahanan.
Sosialisasi : Proses mengkomunikasikan kebudayaan kpd masyarakat yg baru.
Prestise : Pengakuan sosial terhadap kedudukan tertentu.
Westernisasi : Budaya barat yg menggerus budaya asli (kebarat-baratan).
Modernisasi : Upaya untuk mengganti sesuatu menjadi baru/sesuai perkembangan jaman.
Hedonisme : Ajaran yg menyatakan bahwa kewajiban moral akan terpenuhi apabila yg diutamakan adalah kenikmatan.
Epistemologi : Studi tentang masalah-masalah yg berkaitan dgn hakikat kemungkinan batasan dan sumber daya pengetahuan.
Action : Perilaku yg bertujuan.
Antropologi : Ilmu yg mempelajari hasil karya, cipta, dan rasa manusia yg didasarkan pada karsa dan ciri-ciri fisik manusia.
Akulturasi : Campuran kebudayaan asing dgn kebudayaan asli suatu daerah.
Arbitrasi : Suatu cara peneyelesaian perselisihan dimana pihak yg berselisih mengundang pihak ketiga yg keputusannya mengikat.
Achive status : Peningkatan status dalam masyarakat.
Asumsi masyarakat : Mengambil peranan masyarakat.
Asimilasi : Proses perubahan pola kebudayaan utk menyesuaikan diri dgn
mayoritas.
Kontak sosial primer : Hubungan langsung atau tatap muka.
Kontak sosial sekunder : Kontak atau hubungan impersonal.
Oposisi : Tidak adanya kerja sama.
Observasi : Pengamatan terhadap perilaku manusia dalam keadaan alamiah.
Sugesti : Objek dari penerimaan yg tidak didasarkan pada penalaran.
Identifikasi : Orientasi terhadap nilai, norma, dan pola perilaku pihak lain.
Simpati : Reproduksi di dalam diri sendiri mengenai penderitaan pihak lain dan kasih sayang yg timbul sbg akibatnya.
Imitasi : Proses meniru perilaku pihak lain.
Disintegrasi sosial : Proses terpecahnya suatu kelompok sosial menjadi unit-unit kecil shg kehilangan ciri keorganisasiannya serta kepentingan bersama.
Ethology :Studi teoritis terhadap masyarakat sederhana.
Asosiatif : Satuan sosial yg dilandasi oleh adanya kesamaan kepentingan atau dgn kata lain sekelompok orang yg mengorganisasikan dirinya utk mencapai kepentingan bersama.
Filsafat : Ilmu yg mencari kebenarannya melalui jalan pikiran yg berintikan pada logika, estetika, metafisika, dan epistemologi.
Disasosiatif : Proses yg memecah-belah.
Metode penelitian : Cara kerja yg diterapkan dalam sebuah penelitian atau cara pengumpulan data.
Teori sosial : Ajaran tenteng kaidah atau asas suatu ilmu pengetahuan sosial.
Takhayul : Suatu anggapan yg tidak dapat dibuktikan kebenarannya shg menimbulkan suatu ketidakpastian.
Ilmu pengetahuan : Suatu kerangka (knowledge) yg tersusun secara sistematis dan teruji kebenarannya, yg diperoleh melalui suatu penelitian ilmiah.
Adat istiadat : Aturan, kebiasaan yg tumbuh dan terbentuk dari suatu masyarakat atau daerah yg dianggap memiliki nilai dan dijunjung serta dipatuhi masyarakat pendukungnya.
Penyimpangan sosial : Suatu perilaku yg diekspresikan oleh seorang atau beberapa orang anggota masyarakat yg secara sadar atau tidak disadari, tidak menyesuaikan dgn norma yg berlaku dalam masyarakat tempay ia tinggal.
Multikultural : keanekaragaman budaya.
Ajudikasi : Penyelesain perkara atau pangkal pertentangan di pengadilan.
Ascribe status : Status yg didapat dari bawaan (lahir).
Prestise : Peranan sosial terhadap kedudukan tertentu, tingkatan tertentu pada posisi yg dihormati.
Deontologi : Cabang ilmu filsafat tentang sifat kenyataan idiil.
Konsumerisme : Paham/gaya hidup yg menganggap barang mewah sbg ukuran kebahagiaan, kesenangan, gaya hidup tidak hemat.
Kasta : Golongan (tingkat/derajat) manusia di masyarakat agama hindu yg membedakan manusia berdasarkan pekerjaannya.
Pranata sosial : Sistem norma/aturan yg menyangkut suatu aktivitas masyarakat yg bersifat khusus bisa juga disebut institusi.
Fanatisme : Suatu aliran yg terlalu keras (kuat) dalam memegang
keyakinannya terhadap suatu ajaran yg dianutnya jadi hanya berpandangan dari satu pihak saja.
Primordialisme : Suatu paham/pemikiran yg mengutamakan pada tempat yg pertama kepentingan suatu kelompok/komunitas masyarakat.
Intimidasi : Ancaman/gertakan/tindakan untuk menakut-nakuti terhadap orang lain agar ia mau berbuat sesuatu.
Subyektif : Menurut pandangan sendiri, tidak langsung mengenai halnya.
Utopis : Bersifat khayal, orang yg mengimpikan dan merencanakan pembaharuan, namun tidak pernah terwujud.